SUPERVISI AKADEMIK DENGAN PARADIGMA BERPIKIR  COACHING

Dokumentasi SUPERVISI AKADEMIK DENGAN PARADIGMA BERPIKIR COACHING SMP10 Tegal 1

Seluruh guru  UPTD SPF SMPN 10 Tegal mengikuti kegiatan Komunitas Belajar Top Ten dengan tema “Supervisi Akademik Dengan Paradigma Berpikir coaching” yang diselenggarakan pada hari Selasa,3 Sepetember 2024. Kegiatan yang bertempat di laboratorium komputer ini menghadirkan  Sukarmin, S.Pd M.MPd  selaku Kepala Sekolah sebagai narasumber utama.

Beliau memaparkan bahwa “Supervisi akademik adalah pendampingan yang dilakukan oleh atasan untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola pembelajaran yang berkualitas, yang muaranya adalah peningkatan mutu lulusan peserta didik. Saat kepala sekolah menggunakan pendekatan coaching, prinsip yang digunakan adalah kemitraan dan pemberdayaan. Pendekatan coaching juga merupakan sebuah proses kreatif di mana terdapat percakapan dua arah yang memicu proses berpikir kritis untuk memetakan dan menggali situasi serta menghasilkan ide-ide baru.

Namun, sayangnya, supervisi akademik sering kali dianggap seperti pengadilan ketimbang proses pengembangan. Banyak guru merasa terbebani dan khawatir berbuat kesalahan sehingga cenderung tidak menampilkan situasi pembelajaran yang sesungguhnya. Proses coaching membutuhkan kerja sama yang tepat. Dengan percakapan alur TIRTA, proses coaching akan lebih terarah. Namun, harus diperhatikan kembali tentang empat (4) aspek alur TIRTA yang harus diperhatikan. Ini agar proses coaching berjalan dengan lancar (Tujuan Umum, Identifikasi,Rencana Aksi, Tanggung Jawab). Salah satu teknik coaching yang terkenal adalah GROW (Goal, Reality, Options, dan Will).

Belaia juga menambahkan bahwa “Pendekatan coaching dapat digunakan agar praktik peningkatan kinerja menjadi pengalaman yang membangun, memotivasi, dan memberdayakan guru. Dengan demikian,  tujuan supervisi akademik yang sebenarnya dapat tercapai, yaitu meningkatkan kompetensi guru untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dan bermuara pada peningkatan mutu lulusan peserta didik. Dalam melakukan supervisi akademik melalui coaching, hendaknya berpedoman pada prinsip sebagai berikut: Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru, Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu,Terencana,Reflektif,Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati, dan berkesinambungan.

Paradigma berpikir coaching tersebut yakni; pertama, fokus pada coachee atau rekan sejawat, pada saat kita mengembangkan kompetensi rekan sejawat kita, kita memusatkan perhatian kita pada rekan yang kita kembangkan, bukan pada “situasi” yang dibawanya dalam percakapan. Paradigma berpikir yang kedua adalah bersifat terbuka dan ingin tahu. Kita perlu berpikiran terbuka terhadap pemikiran-pemikiran rekan sejawat yang kita kembangkan. Paradigma berpikir coaching yang ketiga adalah memiliki kesadaran diri yang kuat. Kesadaran diri yang kuat membantu kita untuk bisa menangkap adanya perubahan yang terjadi selama pembicaraan dengan rekan sejawat. Kita perlu mampu menangkap adanya emosi/energi yang timbul dan mempengaruhi percakapan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari rekan kita.Paradigma berpikir coaching yang keempat adalah mampu melihat peluang baru dan masa depan. Kita harus mampu melihat peluang perkembangan yang ada dan juga bisa membawa rekan kita melihat masa depan. Coaching mendorong seseorang untuk fokus pada masa depan, karena apa pun situasinya saat ini, yang masih bisa diubah adalah masa depan. Coaching juga mendorong seseorang untuk fokus pada solusi, bukan pada masalah, karena pada saat kita berfokus pada solusi, kita menjadi lebih bersemangat dibandingkan jika kita berfokus pada masalah.

Materi pembelajaran tentang coaching untuk supervisi akademik ini memberikan pengalaman yang berharga dalam hal peningkatan peran guru sebagai pemimpin pembelajaran, khususnya kompetensi dalam memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid.  Seorang guru harus membiasakan melakukan refleksi terkait perbaikan kualitas praktik pembelajaran. Selain itu, guru harus memandu rekan sesama guru untuk bersama menganalisis data hasil pembelajaran, merencanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis untuk meningkatkan pembelajaran, dan melakukan refleksi berdasarkan umpan balik dari murid untuk perbaikan kualitas praktik pembelajaran. Refleksi dari kepala sekolah juga perlu dilakukan untuk perbaikan kualitas praktik pembelajaran.  Bahan yang dapat dijadikan refleksi adalah berupa hasil supervisi dari kepala sekolah kepada bapak Ibu guru di sekolah.  Saat melakukan supervisi sesama guru, guru membutuhkan keterampilan dalam mengelola pelaksanaan supervisi supaya tujuan tercapai.Karena pada dasarnya supervisi akademik melalui coaching ini bertujuan agar kinerja guru semakin meningkat dan berpihak pada murid. (Nunung Ch)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *